Pada tahun 2015, Badan Ekonomi Kreatif(BEKRAF) resmi dibentuk oleh Presiden Joko Widodo. Ini dibuat dengan tujuan agar ekonomi kreatif di Indonesia semakin tertata. Dan presiden memberikan perintah langsung ke BEKRAF untuk melakukan penetrasi ke berbagai daerah di Indonesia demi menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang efisien dan kondusif merata.

Hasilnya, ada perkembangan dari banyaknya pelaku industri kreatif. Bisa jadi, hal ini disebabkan karena makin banyak anak muda yang memiliki inisiatif tinggi untuk mengambil langkah konkret selanjutnya dengan karya kreatif mereka. 

“Ekonomi Kreatif berhubungan dengan ide dan uang. Ini adalah jenis ekonomi pertama di mana imajinasi dan kreativitas menentukan apa yang orang-orang ingin lakukan dan hasilkan”. Kata Bapak Ekonomi Kreatif, John Howkins.

Dalam terbentuknya ekonomi kreatif, itu semua dibagi menjadi 3 elemen. Yang pertama yaitu faktor produksi utama dari kegiatan Ekraf sendiri adalah Sumber Daya Manusia (SDM) nya.  Kedua, sumber daya utamanya adalah kreativitas si pelakunya.  Dan yang terakhir adalah nilai tambah dari segi nilai dan ekonomi. Jadi, kegiatan kreatif yang diadakan secara cuma-cuma belum termasuk sebagai Ekraf.

Kontribusi ekraf dalam perekonomian nasional terus meningkat. Selalu ada peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Selain jumlah angka, peningkatan pada aspek tenaga kerja di bidang Ekraf juga meningkat beriringan. Di tahun 2017, tercatat 17,43 juta individu menggeluti karier Ekonomi Kreatif di Indonesia. Angka ini meningkat sebesar 4,13% dari tahun sebelumnya.

Jadi, ekonomi kreatif dapat menjadi proyek jangka panjang di Indonesia.

Target di tahun 2019

Pemerataan jumlah usaha di keseluruhan Sub-sektor, kemudahan akses pembiayaan, penetrasi pasar untuk ekspor hingga penegakan hukum terkait pembajakan adalah target mereka di tahun ini.

Selain itu, Bekraf juga meyakini bahwa di tahun 2019 mendatang, jumlah tenaga kerja di sektor Ekraf akan mencapai 19 juta jiwa.

Dari banyak sub sektor industri kreatif yang ada di Indonesia, mana yang paling menjanjikan ?

Pastilah semuanya menjanjikan, tergantung bagaimana kita melakukan strategi penjualannya.

Akan tetapi, mari kita bahas 4 Sektor Ekonomi kreatif yang bidang yang paling banyak ditekuni oleh banyak orang.

Desain

Desain visual merupakan bidang yang paling diminati oleh kreator-kreator yang ada di Indonesia. Dan ini terbukti ampuh. Dalam Opus Ekonomi Kreatif Outlook 2019, dijabarkan bahwa ranah desain seperti Desain Komunikasi Visual (DKV) dan desain produk memiliki nilai PBD (Produk Domestik Bruto) yang amat menonjol.

Ini merupakan potensi yang besar dikarenakan semakin berkembangnya teknologi dalam mempermudah penciptaan kreativitas dan terus bertambahnya kebutuhan manusia akan visualisasi produk dalam kehidupan sehari-hari.

Fotografi

Mungkin kita semua sudah cukup familiar dengan perkembangan fotografi. Di zaman sekarang, sudah banyak fotografer yang karyanya diakui oleh dunia. Apalagi dibantu dengan perkembangan teknologi yang semakin ringkas setiap harinya. Bahkan lewat smartphone saja, kita bisa menghasilkan karya fotografi yang baik.

Jadi, fotografi sudah cukup populer di kalangan pelaku industri ekonomi kreatif.

Film,Animasi & Video

Berdasarkan data dari Opus Ekonomi Kreatif Outlook 2019, dikatakan bahwa sepanjang tahun 2005 hingga 2007 produksi film telah tumbuh secara signifikan yaitu 64% (data: UNESCO Institute for Statistics).

Nah, di Indonesia sendiri, Sub-sektor Film, Animasi & Video berkontibusi masif bagi perekonomian nasional. Laju pertumbuhan PBD ini meningkat seiring meningkat pesatnya produksi dan penonton film nasional.

Dan di masa mendatang, bekraf menargetkan untuk mengembangkan industri kreatif ini.

Rencananya, 4.000 layar bioskop akan dicanangkan BEKRAF pada tahun ini. Jadi, ini merupakan peluang yang sangat besar.

Penerbitan

Seiring dengan perkembangan zaman, ada berbagai alternatif lain untuk membaca sesuatu. Ada yang namanya e-book, blog atau media sosial. 

Akan tetapi, ini tidak membuat industri buku cetak mati.

Pada tahun 2016, tercatat bahwa sub sektor penerbitan memiliki
kontribusi yang cukup signifikan untuk Ekonomi Kreatif. Dunia digital bukanlah penghambat kuat untuk industri ini. Minat baca yang tinggi adalah salah satu kunci agar ini berhasil.

Faktor penting lainnya adalah kebebasan penulis melahirkan sebuah ide agar menjadi karya tulis yang memikat. Dan apa hasilnya ?

Di tahun 2016, Sub-sektor penerbitan berhasil memberikan kontribusi PBD sebesar 6,32%. 

Jelaslah bahwa industri kreatif sangatlah potensial di Indonesia. Terobosan-terobosan baru dapat menjadi sebuah jembatan untuk menaikkan perekonomian nasional.